Hari-hari mendatang anak kita, di tengah tantangan yang semakin manakutkan....
Masih ada hal-hal yang membuat kita terus semangat untuk berjuang!
Semoga,

*****
Buku pinjaman yg sudah 1 bulan berada di tangan, 'memaksa' diri untuk segera mengutip hikmah & mengikatnya dg menuliskan apa yg telah sy baca. Berhubung, dlm keadaan sdg tidak suci, sy merasa tulisan resensi ini kurang RUH nya. Meski, ingin sekali sesempurna buku aslinya.
Well, tetap akan sy tulis! Ditambah dg kondisi yg krg bersahabat, agak penat, jiwa jd malas krn tidak mendirikan sholat, namun..waktu mengatakan "Kapan lagi?!"
Baiklah. Buku parenting setebal 277 halaman ini, merupakan terbitan Pro-U Media. Sekilas mengenai sang penerbit, qodarullah sy sempat bersilaturahim ke sana bersama kedua sahabat baik saat menjejakkan kaki di bumi Djogya. Tidak jauh dari masjid Jogokariyan. Alhamdulillah, meski hanya silaturahim sebentar, kami sungguh terkesan. (kenangan thn 2010)
Kembali, mengenai buku yg ada di tangan sy ini, lagi-lagi membuat kecintaan sy pd sang penulis bertambah, sejak buku beliau "Kupinang dg Hamdallah" yg dulu sy beli, hingga telah berpindah-pindah tangan.
Ups! Saya ralat. Sepatutnya, kecintaan sy hanya kepada pemikiran "buah pena" beliau, bukan kepada individunya. Pun, terhadap para penulis hebat lainnya. Kecintaan itu hanya layak pada hasil usahanya. Agar tidak melalaikan jiwa sang penulis krn bentuk pujian.
"Bukankah, Allah yg telah menggerakkan HATI para penulis,
sehingga tulisan mereka mempunyai NILAI di Hati para pembacanya?!"
*****
Awal saya membaca buku ini, menjadi momen berharga. Ya, usai saya berhasil mendiamkan anak-anak secara 'paksa'. Hmm, kemudian saya sholat dan menangis, mencari kedamaian melalui surah An Nuur (hingga selesai). Usai bertilawah, tangan saya refleks menyamber buku yang terletak manis diatas meja. Tanpa disadari, jari jemari saya langsung membuka halaman 186, bagian keempat "Menghukum dengan Kasih Sayang."
Glek!
Sungguh, 'buah pena' yang saaangat bijak. Perlahan, mulai mengaduk-aduk emosi saya. Ada warning besar disana, tapi ia terasa indah diterima. Betapa saya amat jauh dari kesempurnaan menjadi seorang Ibu yang baik. Pada bagian keempat ini, kita diajak untuk belajar memarahi anak, bukan marah, tetapi memarahi. Intinya, kita belajar mengendalikan emosi saat anak-anak mulai memancing keriuhan di rumah. Dan, proses ini saya yakin sangat tidak mudah!
Memarahi anak dengan serangan bertubi-tubi, keras, penuh ancaman & reaktif, tidak membuat anak menjadi baik. Lebih-lebih kalau emosi kita sangat mudah tersulut alias bersumbu pendek. Anak justru belajar mengenali bagaimana cara membuat orangtua marah. (hal. 190)
Masih tentang MARAH. Memarahi anak secara impulsif, tiba-tiba, dan tanpa berpikir jernih justru dapat membuat anak kebal hukuman. Ia tidak lagi takut terkena bentakan, cubitan atau bahkan pukulan yang paling keras sekalipun. (hal.193)
Benarlah yang Rasulullah katakan : "Laa Taghdob!" Jangan Marah...Jangan Marah...Jangan Marah...
Ada kaidah yang mengatakan, "Qubhunal 'iqob bila bayan." Adalah buruk menyiksa (menghukum) tanpa memberi penjelasan.
Wahai Ayah-Bunda, jika mereka (anak-anak kita) terlalu besar ingin tahunya, kadang membuat atraksi keributan yang agak brutal di rumah serta memancing lajunya aliran darah kita, dan jika ia membuat kesalahan..Jangan cela dirinya, cukup perilakunya saja! (sebuah warning untuk diri sendiri)
Well, pada akhirnya..Ayah-Bunda pun harus senada ketika menghadapi hal demikian. Sekali lagi, ini adalah salah satu perjuangan besar (bagi saya) kita semua, yang diamanahkan dengan beragam karakter yang luar biasa, Subhanallah.
*****
Selesai membaca bagian keempat. Barulah saya mulai memutar langkah kebelakang, membuka lembaran demi lembaran dengan sepintas, karena pada setiap bagian, terdapat beberapa helai yang dituliskan ulang dengan tinta yang agak tebal, kalimat yang menegaskan bagian yang sedang dibahas. Dan diantara helai buku, terdapat cover buku-buku parenting lain (dengan penulis berbeda).
Saya merasa, buku-buku tersebut juga dianjurkan sang penulis, agar kita membacanya juga. (wallahu'allam). Diantaranya buku "Prophetic Learning" ," Children to Heaven" karya mas Udik Abdullah, "Maa...aku bisa" karya Wahyudin, "The Great Power of Mother" karya Solikhin Abu Izzudin. Hmm, ataukah ini sponsor dari sang penerbit, heehe...(berhubung mayoritas buku-buku tersebut dari penerbit yg sama)
Parahnya lagi, saya sama sekali belum pernah membaca semua buku diatas. :(
Menyedihkan!
*****
Baiklah, kembali pada buku "SAAT BERHARGA UNTUK ANAK KITA". Buku ini terdiri dari lima bagian, dan kelima-limanya sangat bermanfaat! Bahkan terjadi tarik-menarik (seperti magnet) usai saya membaca daftar isinya. Manakah yang saya utamakan untuk membacanya?!
Karena, aktivitas membaca adalah perjuangan saya dalam mengatur 'me time', memahami proses percepatan waktu, diantara daftar tugas rumahan yang rasanya tidak pernah selesai-selesai . Maka, semakin saya gerak cepat untuk bekerja, semakin cepat pula saya dapat menikmati dunia yang sesungguhnya alias membaca! ^^
Maka, perlahan saya susuri tiap bagiannya dengan Speed Reading. "Semuanya Bermula dari Niat" mengajak kita para Ayah-Bunda untuk merenungkan kembali, memperbaiki Niat-Niat yang mungkin telah tersalah, mengevaluasi cara didik kita terhadap anak, karena kelak...kitalah yang akan mempertanggung jawabkan semua! Astaghfirullahal 'Azhim....
Bagian kedua, " Membangun Jiwa Anak", bagian yang paling banyak mengajak kita berfikir, terutama mengenai Qoulan Sadidan (perkataan jujur) terhadap anak-anak, tepatnya lagi belajar mengungkapkan kebenaran dengan tepat pada mereka. Belajar memahami hak anak. Jangan salahkan sikap remaja yang amburadul saat ini? kembali evaluasi cara kita mendidik mereka sejak kecil!?
Banyak orangtua merasa telah bersungguh-sungguh berjuang untuk anaknya. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah memaksa mereka menjadi seperti keinginan orangtua. Kita paksa anaka-anak kita untuk meniru kita, dengan bekal seperti bekal kita, padahal ia diciptakan bukan menghadapi zaman ini. Ia diciptakan untuk menghadapi zaman lain yang berbeda. (hal.104)
Dan, Kegagalan adalah ketika mereka dapat melebihi kehebatan orangtuanya, tetapi jiwa mereka gersang dan hati mereka rapuh, sementara Iman hampi-hampir tidak dapat ditemukan bekasnya. (Hal.106)
"Titip Rindu Buat Anak kita," bagian ketiga ini lebih banyak menguras air mata saya, selain bentuk do'a dan harapan beliau kepada anak-anaknya yang menggugahi salah satunya mengajak anak-anaknya untuk menghormati ibu mereka.
"Kalau hari ini engkau bisa berlari-lari gembira, itu karena ibumu mengikhlaskan keletihannya untuk mencurahkan kasih sayang kepadamu saat tulang-tulangmu belum kuat."(hal.153)
Pada bagian ini, kita diajak jua untuk selami Jiwa, bahwasanya terlalu banyak kekurangan kita sebagai orangtua, cenderung menyalahkan dan memandang kenakalan yang anak-anak kita perbuat karena orangtua juga dapat mendurhakai anak-anak.
Dan, "Mempersiapkan Masa Depan Anak" adalah bagian terakhir dari buku ini, bagian yang 'memaksa' saya untuk kembali membaca helai-helai yang telah saya lewati. Sungguh, betapa banyak ilmu yang para Ayah Bunda wajib ketahui, proses pembelajaran yang tidak akan pernah berhenti hingga masa di dunia berakhir. Proses pembelajaran yang diperlukan semangat tanpa henti, ekstra kesabararan, juga keikhlasan yang tinggi. Belajar banyak dari perkataan Luqman Al-Hakim, tentang nasehat-nasehat beliau kepada anaknya, abadi tertulis dalam surah Luqman, renungkanlah!
Sungguh, wahai sahabat....
Jika saat ini kita telah mampu berdiri sukses dan mandiri jua hidup bahagia. Semua itu karena peran lantunan doa-doa Ayah-Bunda kita. Maka, jangan pernah bosan untuk merintih, memohon kepada Allah yang Maha Menggemgam Jiwa, terutama pada panjang sujud kita...dan sepertiga malam yang mendamaikan...
...Takutlah kalau-kalau di belakang hari mereka meninggalkan keturunan yang lemah, dan mencemaskan (merasa ketakutan) akan mereka. Maka Bertakwalah kepada Allah dan berkatalah dengan QOULAN SADIDAN (perkataan yg benar)...
(Surah An Nisaa' ayat 9)
*****
Saya yang faqir ilmu, merasa Iman masih lemah dan tiada amal yang dapat saya banggakan....?
Berharap, resensi sederhana ini mampu menggugah kita semua untuk menjadi lebih baik lagi. Belajar dan terus belajar menjadi Ayah-Bunda yang terbaik untuk anak-anak kita. Dan, hanya kepada Allah kita menggantungkan semua harapan.
Fa alhamahaa fujuurohaa wa taqwaahaa...
-di hati kitalah semua bertarung-
Salam,
Dini Rahmajanti (Dee),
Tanah Semenanjung,
Safar 1434 H.
No comments:
Post a Comment