Keutamaan Mencari Ilmu!

Tuesday, 18 December 2012

[Hikmah, sebuah resensi] Saat Berharga Untuk Anak Kita.

Bismillah...

Hari-hari mendatang anak kita, di tengah tantangan yang semakin manakutkan....
Masih ada hal-hal yang membuat kita terus semangat untuk berjuang!
Semoga, 





*****

Buku pinjaman yg sudah 1 bulan berada di tangan, 'memaksa' diri untuk segera mengutip hikmah & mengikatnya dg menuliskan apa yg telah sy baca. Berhubung, dlm keadaan sdg tidak suci, sy merasa tulisan resensi ini kurang RUH nya. Meski, ingin sekali sesempurna buku aslinya.

Well, tetap akan sy tulis! Ditambah dg kondisi yg krg bersahabat, agak penat, jiwa jd malas krn tidak mendirikan sholat, namun..waktu mengatakan "Kapan lagi?!"

Baiklah. Buku parenting setebal 277 halaman ini, merupakan terbitan Pro-U Media. Sekilas mengenai sang penerbit, qodarullah sy sempat bersilaturahim ke sana bersama kedua sahabat baik saat menjejakkan kaki di bumi Djogya. Tidak jauh dari masjid Jogokariyan. Alhamdulillah, meski hanya silaturahim sebentar, kami sungguh terkesan. (kenangan thn 2010)

Kembali, mengenai buku yg ada di tangan sy ini, lagi-lagi membuat kecintaan sy pd sang penulis bertambah, sejak buku beliau "Kupinang dg Hamdallah" yg dulu sy beli, hingga telah berpindah-pindah tangan.

Ups! Saya ralat. Sepatutnya, kecintaan sy hanya kepada pemikiran "buah pena" beliau, bukan kepada individunya. Pun, terhadap para penulis hebat lainnya. Kecintaan itu hanya layak pada hasil usahanya. Agar tidak melalaikan jiwa sang penulis krn bentuk pujian.

"Bukankah, Allah yg telah menggerakkan HATI para penulis, sehingga tulisan mereka mempunyai NILAI di Hati para pembacanya?!"



*****

Awal saya membaca buku ini, menjadi momen berharga. Ya, usai saya berhasil mendiamkan anak-anak secara 'paksa'. Hmm, kemudian saya sholat dan menangis, mencari kedamaian melalui surah An Nuur (hingga selesai). Usai bertilawah, tangan saya refleks menyamber buku yang terletak manis diatas meja. Tanpa disadari, jari jemari saya langsung membuka halaman 186, bagian keempat "Menghukum dengan Kasih Sayang."

Glek!

Sungguh, 'buah pena' yang saaangat bijak. Perlahan, mulai mengaduk-aduk emosi saya. Ada warning besar disana, tapi ia terasa indah diterima. Betapa saya amat jauh dari kesempurnaan menjadi seorang Ibu yang baik. Pada bagian keempat ini, kita diajak untuk belajar memarahi anak, bukan marah, tetapi memarahi. Intinya, kita belajar mengendalikan emosi saat anak-anak mulai memancing keriuhan di rumah. Dan, proses ini saya yakin sangat tidak mudah!

Memarahi anak dengan serangan bertubi-tubi, keras, penuh ancaman & reaktif, tidak membuat anak menjadi baik. Lebih-lebih kalau emosi kita sangat mudah tersulut alias bersumbu pendek. Anak justru belajar mengenali bagaimana cara membuat orangtua marah. (hal. 190)

Masih tentang MARAH. Memarahi anak secara impulsif, tiba-tiba, dan tanpa berpikir jernih justru dapat membuat anak kebal hukuman. Ia tidak lagi takut terkena bentakan, cubitan atau bahkan pukulan yang paling keras sekalipun. (hal.193)

Benarlah yang Rasulullah katakan : "Laa Taghdob!" Jangan Marah...Jangan Marah...Jangan Marah...
Ada kaidah yang mengatakan, "Qubhunal 'iqob bila bayan." Adalah buruk menyiksa (menghukum) tanpa memberi penjelasan.
Wahai Ayah-Bunda, jika mereka (anak-anak kita) terlalu besar ingin tahunya, kadang membuat atraksi keributan yang agak brutal di rumah serta memancing lajunya aliran darah kita, dan jika ia membuat kesalahan..Jangan cela dirinya, cukup perilakunya saja! (sebuah warning untuk diri sendiri)

Well, pada akhirnya..Ayah-Bunda pun harus senada ketika menghadapi hal demikian. Sekali lagi, ini adalah salah satu perjuangan besar (bagi saya) kita semua, yang diamanahkan dengan beragam karakter yang luar biasa, Subhanallah.

*****

Selesai membaca bagian keempat. Barulah saya mulai memutar langkah kebelakang, membuka lembaran demi lembaran dengan sepintas, karena pada setiap bagian, terdapat beberapa helai yang dituliskan ulang dengan tinta yang agak tebal, kalimat yang menegaskan bagian yang sedang dibahas. Dan diantara helai buku, terdapat cover buku-buku parenting lain (dengan penulis berbeda).

Saya merasa, buku-buku tersebut juga dianjurkan sang penulis, agar kita membacanya juga. (wallahu'allam). Diantaranya buku "Prophetic Learning" ," Children to Heaven" karya mas Udik Abdullah, "Maa...aku bisa" karya Wahyudin, "The Great Power of Mother" karya Solikhin Abu Izzudin. Hmm, ataukah ini sponsor dari sang penerbit, heehe...(berhubung mayoritas buku-buku tersebut dari penerbit yg sama)

Parahnya lagi, saya sama sekali belum pernah membaca semua buku diatas. :(
Menyedihkan!

*****

Baiklah, kembali pada buku "SAAT BERHARGA UNTUK ANAK KITA". Buku ini terdiri dari lima bagian, dan kelima-limanya sangat bermanfaat! Bahkan terjadi tarik-menarik (seperti magnet) usai saya membaca daftar isinya. Manakah yang saya utamakan untuk membacanya?!

Karena, aktivitas membaca adalah perjuangan saya dalam mengatur 'me time', memahami proses percepatan waktu, diantara daftar tugas rumahan yang rasanya tidak pernah selesai-selesai . Maka, semakin saya gerak cepat untuk bekerja, semakin cepat pula saya dapat menikmati dunia yang sesungguhnya alias membaca! ^^

Maka, perlahan saya susuri tiap bagiannya dengan Speed Reading. "Semuanya Bermula dari Niat" mengajak kita para Ayah-Bunda untuk merenungkan kembali, memperbaiki Niat-Niat yang mungkin telah tersalah, mengevaluasi cara didik kita terhadap anak, karena kelak...kitalah yang akan mempertanggung jawabkan semua! Astaghfirullahal 'Azhim....

Bagian kedua, " Membangun Jiwa Anak", bagian yang paling banyak mengajak kita berfikir, terutama mengenai Qoulan Sadidan (perkataan jujur) terhadap anak-anak, tepatnya lagi belajar mengungkapkan kebenaran dengan tepat pada mereka. Belajar memahami hak anak. Jangan salahkan sikap remaja yang amburadul saat ini? kembali evaluasi cara kita mendidik mereka sejak kecil!?

Banyak orangtua merasa telah bersungguh-sungguh berjuang untuk anaknya. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah memaksa mereka menjadi seperti keinginan orangtua. Kita paksa anaka-anak kita untuk meniru kita, dengan bekal seperti bekal kita, padahal ia diciptakan bukan menghadapi zaman ini. Ia diciptakan untuk menghadapi zaman lain yang berbeda. (hal.104)

Dan, Kegagalan adalah ketika mereka dapat melebihi kehebatan orangtuanya, tetapi jiwa mereka gersang dan hati mereka rapuh, sementara Iman hampi-hampir tidak dapat ditemukan bekasnya. (Hal.106)

"Titip Rindu Buat Anak kita," bagian ketiga ini lebih banyak menguras air mata saya, selain bentuk do'a dan harapan beliau kepada anak-anaknya yang menggugahi salah satunya mengajak anak-anaknya untuk menghormati ibu mereka.

"Kalau hari ini engkau bisa berlari-lari gembira, itu karena ibumu mengikhlaskan keletihannya untuk mencurahkan kasih sayang kepadamu saat tulang-tulangmu belum kuat."(hal.153)

Pada bagian ini, kita diajak jua untuk selami Jiwa, bahwasanya terlalu banyak kekurangan kita sebagai orangtua, cenderung menyalahkan dan memandang kenakalan yang anak-anak kita perbuat karena orangtua juga dapat mendurhakai anak-anak.

Dan, "Mempersiapkan Masa Depan Anak" adalah bagian terakhir dari buku ini, bagian yang 'memaksa' saya untuk kembali membaca helai-helai yang telah saya lewati. Sungguh, betapa banyak ilmu yang para Ayah Bunda wajib ketahui, proses pembelajaran yang tidak akan pernah berhenti hingga masa di dunia berakhir. Proses pembelajaran yang diperlukan semangat tanpa henti, ekstra kesabararan, juga keikhlasan yang tinggi. Belajar banyak dari perkataan Luqman Al-Hakim, tentang nasehat-nasehat beliau kepada anaknya, abadi tertulis dalam surah Luqman, renungkanlah!

Sungguh, wahai sahabat....
Jika saat ini kita telah mampu berdiri sukses dan mandiri jua hidup bahagia. Semua itu karena peran lantunan doa-doa Ayah-Bunda kita. Maka, jangan pernah bosan untuk merintih, memohon kepada Allah yang Maha Menggemgam Jiwa, terutama pada panjang sujud kita...dan sepertiga malam yang mendamaikan...

...Takutlah kalau-kalau di belakang hari mereka meninggalkan keturunan yang lemah, dan mencemaskan (merasa ketakutan) akan mereka. Maka Bertakwalah kepada Allah dan berkatalah dengan QOULAN SADIDAN (perkataan yg benar)...
(Surah An Nisaa' ayat 9)

*****

Saya yang faqir ilmu, merasa Iman masih lemah dan tiada amal yang dapat saya banggakan....?
Berharap, resensi sederhana ini mampu menggugah kita semua untuk menjadi lebih baik lagi. Belajar dan terus belajar menjadi Ayah-Bunda yang terbaik untuk anak-anak kita. Dan, hanya kepada Allah kita menggantungkan semua harapan.  

Saling mendokan ya, Kawan & jangan lupa miliki bukunya, yaa! ^^

Fa alhamahaa fujuurohaa wa taqwaahaa...
-di hati kitalah semua bertarung-



Salam,
Dini Rahmajanti (Dee),
Tanah Semenanjung,
Safar 1434 H.

Thursday, 6 December 2012

Berjuanglah, Bunda tidak sendiri.

1001 rasa dari Sumatera hingga Australia.

Sebuah antalogi yang mengisahkan tentang perjuangan para bunda, menjelang melahirkan buah hatinya. Luar biasa, menarik ! membuat flashback ketika saya akan melahirkan keempat 'panglima kecil' kami. MasyaAllah...

Buku ini saya pinjam dari sahabat baik saya yang tinggal di dekat KUIS. Semoga Allah membalas kebaikan yang berlimpah pada Ust.Windo & Kak Mimi sekeluarga, aamiin.

Pertamakali yang saya perhatikan adalah sinopsis, kata pengantar dan daftar isi... mencari benang merah dari inti penulisan buku tersebut, mencoba memilah, tulisan mana yang akan saya baca terlebih dahulu. Hingga, saya lari membuka halaman belakang, mencoba mengenali para penulisnya dahulu. Ya, disana ramai para bunda yang sudah menjadi kawan saya di jejaring sosial (FB). Bahkan satu diantaranya sudah pernah berjumpa bahkan cukup dekat semenjak saya belum menikah lagi, melalui kegiatan-kegiatan di MyQers Jakarta, finish. :D

Saya putuskan membaca tulisannya bunda Ade Anita "melahirkan bayi usia tiga bulan" , yang terdapat pada halaman ke-157, kemudian barulah saya membaca mulai dari tulisan pertama, heehe..pada dasarnya saya hanya ingin ''membaca cepat" , mengambil nutrisi tulisannya segera! ^^

Syukurlah, saya tidak salah. Setelah semua selesai dibaca, kisahnya mba Ade Anita (penulis adalah kawan lama saya di MyQers) adalah yang paling menarik pada pandangan saya. Mengapa? Selain menambah pengetahuan, perbedaan dari mulai cara juga service para tenaga kesehatannya terhadap ibu hamil di negeri lain (Sydney, Australia), saya terhibur dengan gaya penulisannya yang cukup luwes dalam menuturkan kisah, hingga membuat saya tersenyum, dan mendapat ilmu positif menjadi  istri.

Ternyata, disana juga bisa memilih melahirkan dengan midwife alias bidan looh...dan pelayanannya juga gak beda seperti bidan-bidan di tanah air yg sangat sabar juga megayomi seperti keluarga sendiri. Mungkin lebih lagi, terlihat dari percakapan antara mba Ade dg sang midwife.

Dan, satu lagi yang menarik adalah notes yg dibuat mba Ade menjelang bersalin, wuahh hebat menurut saya, beliau masih memikirkan makan minum untuk husband nya. Begini tulisannya...

''Mas, ada ayam yang sudah aku bumbui di dalam kulkas. jadi kamu tinggal goreng aja jika mau makan. Ada daun bayam, daun kaylan, wortel, buncis dan daun caisim, yang sudah aku bersihkan dan potong-potong di dalam freezer, kamu tinggal cemplung-cemplungin saja jika ingin menggunakannya.Semua bumbu yang sudah jadi aku taruh di dalam kulkas, di rak chillernya......I love you."

*****

Yaa, selain itu buku yang tebalnya mencapai 230 halaman ini, menambah ilmu tuk semua bunda juga tenaga kesehatan : dokter, bidan dan perawat. Diantaranya, belajar untuk tidak panik ketika menghadapi masalah, ketika pasien (atau diri sendiri) mengenali gejala-gejalanya.

Seperti pada tulisannya bunda Yudith Fabiola dan Riawani Elyta, ketika mengalami alergi pada antibiotik tertentu. Membacanya sudah cukup membuat saya turut cemas, sekiranya saya adalah bidannya, saya belajar mengenali pasien dengan sangat melalui anamnesanya, pasien menderita asma kah? ada alergi dengan obat tertentu kah? dan lebih baik menjelaskan tanda-tanda juga penanganan segera sekiranya hal yang tidak diinginkan terjadi. Sehingga tidak harus membuat pasien lama menunggu pertolongan kita dan merasa kesakitan.

Saya jadi belajar ilmu kebidanan kembali melalui buku ini (meski hanya sedikit). Bagaimana menghadapi ibu hamil dengan kasus leher janin terlilit tali pusat? tanda-tanda pasien alergi terhadap antibiotik (obat tertentu), juga hal-hal yang membuat para bunda lebih nyaman saat akan melahirkan. Bahkan persalinan dengan cara hypnobirthing sekilas saya dapatkan kisahnya disini.

Ya..ya...yaa, sekali lagi terimakasih untuk para penulisnya dan sukses selalu. Semoga ilmu yang bermanfaat ini mendapat keberkahan terus menerus, aamiin.

Buku antalogi ini disusun oleh mba Qonita Musa & Naqiyyah Syam, dan diterbitkan oleh Elex Media Komputindo.

NB: Semoga saya masih berkesempatan miliki buku ini. ^^

 *****

Penulis Resensi : Dini Rahmajanti (Dee)
Negeri Semenanjung Malaysia.

Monday, 17 September 2012

~ 10 Hal Terbaik ~




Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu'anhu berkata 10 hal terbaik :


1. Ilmu = Sebaik baik harta warisan.
2. Sopan santun = Sebaik baik perolehan.
3. Takwa = Sebaik baik bekal akhirat.
4. Ibadah = Sebaik baik harta perniagaan.
5. Amal shalih = Sebaik baik penuntun ke surga.
6. Akhlaq yang baik = Sebaik baik teman.
7. Sifat santun = Sebaik baik pembantu.
8. Qanaah = Sebaik baik kekayaan.
9. Taufiq = Sebaik baik pertolongan.
10. Kematian = Sebaik baik pendidikan.
 
Syarh al Munab Bihat ' alal isti' aad. Karya Ibnu Hajar al Asqalani

‎*Struktur Terbaik dimiliki oleh manusia



1. Semut, diciptakan dengan kemampuan untuk mengangkat beban 20-50x berat badannya, menakjubkan. Manusia, tidak, bahkan atlet angkat berat paling kuat sekalipun, hanya mentok 5x berat badannya.

Tetapi manusia, dianugerahi kemampuan mengangkat beban hidup berkali2 lipat.

2. Burung merak, diciptakan dengan seluruh keindahan pada bulu ekornya, menakjubkan. Ada ratusan corak warna yg indah tiada tara. Manusia, tidak, warna kulit kita, mau kulit artis model sabun top sekalipun, begitu2 saja, tdk ada warnanya.

Tetapi manusia, dianugerahi keindahan hati yang tiada tara, yg akhlaknya bisa begitu mencengangkan untuk dilihat. Kita akan terpesona menatap wajah indah seseorang yg berahklak baik. Senyum tulusnya amat menentramkan.

3. Penyu, diciptakan dengan kesetiaan pada siklus migrasi, menakjubkan. Beribu-ribu kilometer mereka pergi meninggalkan tempat lahirnya, maka besok lusa, saat dewasa, untuk bertelur, beribu-ribu kilometer mereka akan kembali ke tempat yg sama, tidak tertukar. Meski beratus2 rintangan dilalui. Manusia tidak, beda pintu, beda gang, apalagi beda jalan saja bisa membuat kita tersesat.

STATUS BANG DARWIS @Tere Liye

Friday, 20 July 2012

Jika Anak "mogok" Sekolah??!

Mengenang bunda Yoyoh Yusroh di group MLC,

Beliau senantiasa menyempatkan diri untuk berbagi di sela-sela kesibukan, ketika transit di bandara, ketika dalam perjalanan dsbnya. simak berikut sharing Beliau, semoga bermanfaat.

"Sharing sj pak Hari, diantara putra sy ada yg mogok sklh 2 tahun, sy ajak Tes ke bbrp sekolah smu dari negr smp swasta SBI semua lulus, tapi ttp sj ia hanya sklh bbrp pekan, ia lbh suka kursus bhs. Saat akan UN sy agak panik khawatir ia tdk punya ijazah smu, akhirnya sy bujuk untuk sekolah 3 bln disekolah tempat ia masuk pertama, alhamdulillah ia mau, tp bbrp pkn sj ia masuk, mogok lg, akhirnya sy coba bicara lagi sbtlnya apa yg membuat abang tdk mau sekolah? Ia bilang males, monoton, gurunya satu muridnya 30, lbh baik aku baca buku di rumah 4 jam bisa bbrp buku. Akhirnya kami menyerah, dan ia tetap kami daftarkan di UN, guru guru sempat cemas krn bila ia tdk lulus, mempngrhi prosentsi kelulusan siswa. Sy katakan sy optimis insyaAllah ia lulus. Alhmdllh ia termsk 7 besar kmdian ia mau ikut tes UMPTN, alhmdllh di terima di UI, saat ini sdg ikut debat nasional. Mewakili UI di Surabaya... Sy bersyukur saat ia mogok, sy jarang bicara hanya mengingatkan waktu sholat dan makan, memberi nasihat hanya sesekali...sy berpikir kalau sy emosi sy tdk bisa mengontrol diri, dan mngkn bertindak negatif yg membuat ia tidak bahagia dan dendam kpd sy, alhamdulillah smg ia menjadi anak sholeh dan berkontribusi dlm membangun peradaban.... 
 Share dari Grup Millenial Learning Center,asuhan Bapak Harry Santosa.

Tuesday, 8 May 2012

Kecerdasan Anak Tergantung pada Bacaan Mereka Saat Balita



Apa kata para ahli?

“Jika orang tua membacakan buku cerita kepada anak sejak usia dini, mereka sebenarnya telah mengenalkan anak pada dunia lain yang mengasyikkan. Kebiasaan ini bahkan akan menentukan kesuksesan akademik mereka di kemudian hari.

“Anak usia dua tahun yang setiap hari sering dibacakan buku cenderung berprestasi lebih baik ketika duduk di TK atau SD dan memiliki kemampuan belajar dan berkomunikasi 2-3 kali lebih baik ketimbang anak yang hanya dibacakan buku beberapa kali saja dalam seminggu.” (Nicole Niamic, The Benefits of Reading to Your Childern)

“Pada saat anak berumur 3 tahun, pertumbuhan otak sudah mencapai 90% dari otak dewasa. Setelah usia 3 tahun keatas tinggal fase pembesaran dan pematangan neuron. Oleh karena itu dalam usia dini anak perlu dikenalkan dengan dunia membaca. Otak mereka akan merekam isi bacaan apa pun yang disampaikan orang tuanya dalam gaya cerita.”

“Anak juga perlu diberikan buku-buku yang penuh warna-warni dan isinya memikat daya fantasi. Disamping untuk mengenalkan bentuk, juga mengenalkan warna pada anak. Karena pada usia dini anak belum mampu memperlakukan buku dengan baik, maka fisik buku yang diperlukan anak umumnya mesti kuat dan tebal, tak mudah robek dan gampang dibuka.” (Muh Muslih, S Ag)

Fakta Mengenai Kecerdasan Anak Balita
1. Kebiasaan membacakan untuk anak balita membuat otak berkembang baik lebih, berpikir rasional, memiliki wawasan lebih luas dan lebih mampu mengendalikan diri.
2. Di usia balita, mereka sudah mulai menyukai cerita tentang terjadinya suatu benda dan bagaimana cara kerja sesuatu.
3. Konsep-konsep berikut seyogyanya telah diperkenalkan kepada balita: konsep bentuk dan warna, besar-kecil (1 tahun), perbedaan huruf dan angka (3 tahun), serta ruang dan waktu (3-4 tahun).

Panduan Memilih Buku untuk Balita
1. Gambarnya besar dengan warna-warna cerah, harus langsung mudah dikenali.
2. Buku mudah dipegang anak.
3. Penggunaan bahasa teatrikal yang bisa ditiru oleh pembaca.
4. Selain cerita, buku-buku itu juga dapat memuat urutan abjad atau angka.
5. Bahan untuk buku terbuat dari kertas yang tidak mudah sobek.

Sumber:

http://www.pustaka-lebah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=69&Itemid=78