Berbahagialah Wahai Para Perintis
Hari
ini yang terbangun bukanlah peradaban belajar, peradaban yang
menghargai proses, namun peradaban transaksional. Peradaban hari ini
ibarat peradaban yang menyembelih angsa bertelur emas. Membunuh angsa
dengan harapan memperoleh sebanyak-banyak telur emas.
Sudah
menjadi kelaziman, bila tujuan belajar karena "angka-angka yang tertera
hebat di selembar ijasah serta deretan gelar", tujuan berpolitik karena
"angka yang bergerak naik di rekening pribadi disertai kekuasaan
kolektif utk sebanyaknya meraup kepentingan kelompok, tujuan menjadi
entrepreneur karena "aset yang bisa dikuasai" tanpa peduli cara dan
produk yang dijual, dstnya.
Tidak inginkah Peradaban Belajar kembali hadir sebagaimana zaman-zaman keemasan dahulu?
Tidak jugakah menggugah jiwa kita, syair berikut:
"Berapa banyak zaman
ketika kebahagiaan mendekap ummat,
suatu zaman ketika Kitabullah..
dilantunkan setiap pagi dan petang"
Mari jadikan sisa umur kita untuk menjadi "perintis" , manjadi peretas
bagi kebaikan zaman. Tidak cukupkah kabar gembira dari Nabi kita
tercinta...
"Berbahagialah wahai para Perintis!".
Salam Pendidikan Masa Depan
No comments:
Post a Comment